ADAB-ADAB DALAM USROH HASMI

BAB 1
SALING MENCINTAI

Mencintai seorang muslim merupakan bagian dari keimanan dan ibadah yang mulia. Kecintaan demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk meraih ridho-Nya. Kecintaan yang tidak berharap imbalan apapun selain imbalan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Inilah cinta sejati yang menyebabkan seseorang meraih kecintaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kedudukan mulia di sisi-Nya, merasakan manisnya iman dan mendapatkan naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Sesama muslim adalah saudara. Hidup laksana satu tubuh yang saling menjaga, mendukung, tolong-menolong dan saling mendo’akan. Persaudaraan dalam Islam menjadikan seorang muslim peduli terhadap muslim lainnya dan senantiasa berharap yang terbaik untuk saudaranya sebagaimana ia berharap untuk dirinya sendiri. Rosululloh sollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak akan sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai saudaranya se-Islam sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Dalam bangunan Usroh, Anda berkesempatan membangun kecintaan sesama muslim dalam lingkaran yang terjangkau. Ini merupakan pelatihan untuk hati seseorang dalam mencintai seluruh umat Islam.

BAB 2
TOLONG-MENOLONG

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ 

“Tolong-menolonglah kalian dalam mengerjakan kebaikan dan ketakwaan serta jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Tolong menolong dalam melakukan kebaikan dan ketakwaan adalah konsekuensi ukhuwah islamiyah yang harus kita penuhi.

Tolong-menolong adalah hal yang wajib dikerjakan dalam meniti Islam (kebaikan dan ketakwaan). Tolong-menolong juga akan membantu meringankan beban hidup serta melindungi diri dari berbagai ancaman dan gangguan fisik.

Usroh merupakan ajang yang sangat ideal untuk melatih diri kita melaksanakan kandungan ayat di atas. Sangat ideal dikarenakan keterbatasan lingkarannya dan kedekatan para anggotanya.

Ketika seorang anggota Usroh menolong anggota lainnya sewaktu dibutuhkan, maka amalnya tidak akan sia-sia di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan sebenarnya dia sedang melatih dirinya untuk mampu ikut serta dalam menolong umat secara keseluruhan dan itu adalah kewajiban yang besar.


BAB 3
SALING MENGUNJUNGI

Mengunjungi saudara seiman dapat memperkuat jalinan ukhuwah, menjadi sebab datangnya cinta Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan meraih kedudukan mulia di Surga.

Rosululloh sollallohu ‘alayi wa sallam bersabda:

مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الجَنَّةِ مَنْزِلاً.

“Siapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya se-Islam karena Alloh, maka seorang malaikat berseru, ‘Kamu baik dan jalanmu penuh kebaikan serta kamu mendapatkan suatu tempat di surga.” (HR. Tirmidzi)

Jadi menziarahi seorang muslim atau menjenguk seorang yang sedang sakit adalah amalan yang besar yang dapat menuntun orang ke surga. Amal ini akan menjadi jauh lebih ringan ketika seseorang hidup berkelompok di dalam ketakwaan. Demikianlah halnya dengan mereka yang menjadi anggota usroh.

Selain itu saling mengunjungi  anggota Usroh juga bertujuan untuk saling menasihati jika diperlukan dan sebagai bentuk kecintaan antar sesama.

Khususnya menjenguk yang sakit adalah hak seorang muslim atas muslim lainnya yang berlimpah pahala. Bahkan dalam satu hadis shohih dikatakan bahwa penjenguk muslim yang sakit mendapatkan do’a dari 70 ribu malaikat, dan mendapatkan naungan rahmat dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.


BAB 4
SALING MENASIHATI

Saling menasihati adalah salah satu dari empat persyaratan untuk tidak jadi kaum yang merugi di dunia dan akhirat.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ  

“Demi masa. Sungguh, manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman danberamal sholeh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk bersabar.” (QS. Al-‘Asr [103]: 1-3)

Ada empat persyaratan pada ayat di atas untuk tidak menjadi kaum yang merugi, yaitu: beriman, beramal sholeh, saling menasihati untuk melaksanakan kebenaran dan saling menasehati untuk tetap bersabar dalam menjalani semua itu.

Keempat syarat tersebut merupakan interaksi antar anggota masyarakat muslim dan tercakup dalam kegiatan suatu usroh. Dalam suatu usroh, kita berlatih untuk menerapkan hal-hal yang demikian dalam lingkaran yang lebih keciluntuk kemudianmenerapkannya di lingkaran yang lebih besar yaitu di masyarakat muslim.

Di sini kita lihat bahwa usroh adalah salah satu gerbang pengamalan surat Al-Ashr.


BAB 5

MENJAGA AMANAH MAJELIS

Setiap anggota Usroh hendaknya menjaga kehormatan saudaranya. Tidak menyebarluaskan rahasia pribadi, aib, dan sesuatu yang membuat-nya merasa malu jika hal tersebut diketahui secara umum.

Rosululloh sollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ التَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

“Jika seseorang mengatakan suatu perkataan, kemudian ia menengok ke kanan dan ke kiri (karena khawatir ada yang mendengar), maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HR. Tirmidzi)

Imam Hasan al-Bashri rohimahulloh berkata, “Sesungguhnya termasuk perbuatan khianat adalah engkau menyebarkan rahasia saudaramu seIslam.”

Bukan hanya sesuatu yang sengaja dirahasiakan oleh pelakunya atau pengucapnya, akan tetapi juga mencakup perkataan dan perbuatan anggota Usroh yang tidak layak disebarluaskan.

Semua itu adalah amanah yang harus dijaga. Membocorkannya merupakan pengkhianatan amanah majelis dan bisa merusak bangunan ukhuwah islamiyah. Terlebih lagi jika berkaitan dengan aib saudaranya.

Usroh juga merupakan ajang pelatihan penjagaan amanah dan penjagaan amanah merupakan sebab masuk Surga, bukti keimanan dan suatu sifat yang mulia. Alloh swt akan membalasnya dengan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.


BAB 6
MENJALANKAN TUGAS PENUH DENGAN TANGGUNG JAWAB

Rosululloh sollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Alloh menyukai jika seseorang mengerjakan sesuatu, dia kerjakan dengan sebaik-baiknya.” (HR. Thabrani)

Yang disukai Alloh di hadis ini adalah pekerjaan yang sungguh-sungguh untuk mencapai hasil yang terbaik. Jika seseorang ingin seluruh amal sholehnya disukai Alloh, dia harus penuh konsentrasi dan kesungguhan serta rasa tanggung jawab yang tinggi dalam mengerjakannya. Menggapai kesukaan Alloh adalah suatu prestasi besar di kehidupan seorang muslim.

Kita bukan saja harus menyadari keharusan menyempurnakan suatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya, akan tetapi juga harus mulai merealisasikannya. Untuk itu kita mulai dari pelaksanaan apa-apa yang telah disepakati dalam Usroh kita seperti: adab Usroh, kehadiran kegiatan, melaksanakan program dan lain sebagainya.

Sudah barang tentu semua amal dan kewajiban Islami sehari-hari pun harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan bukan asal dikerjakan atau asal jadi.


BAB 7
MENJAGA SEMANGAT DAN DISIPLIN

Untuk meniti jalan dakwah Islam, dibutuhkan semangat yang terus menggelora dan kedisiplinan yang tinggi sebagai kunci sukses dalam dakwah. Tidak ada kata lelah, tidak ada kata sakit hati, tidak ada kata membosankan, dan tidak boleh kendor sedikit pun dalam mengawal perjuangan dakwah Islam. Alloh Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ٢٣

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada yang menunggu, dan mereka tidak sedikit pun mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 23)

Dalam memupuk gelora semangat dan kedisiplinan anggota Usroh, hendaknya ia tetap menghadiri halaqoh-halaqoh Usroh, membudayakan tilawatul Qur’an, banyak berdzikir, do’a, mengingat perjuangan para nabi dan rosul, dan tetap berada dalam bangunan Usroh dalam kondisi apapun.

Semangat saja tanpa disiplin akan membuat celah-celah kerusakan dan kegagalan terwujudnya misi dakwah. Apa yang terjadi pada pasukan pemanah di gunung Uhud cukup menjadi pelajaran bagaimana para pejuang Islam wajib disiplin dan menjalankan tugas sesuai perintah serta rambu-rambu perjuangan.


BAB 8
SELALU MENJALIN KONTAK SESAMA ANGGOTA

Anggota Usroh layaknya satu tubuh. Saling menjaga dan saling melindungi. Saling berbagi manfaat dan saling memikul beban bersama. Rosululloh sollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling manguatkan.” (HR. Muslim)

Dalam menjaga bangunan Usroh, hendaknya anggota Usroh senantiasa menjalin komunikasi. Bangunan Usroh yang kuat berawal dari jalinan komunikasi yang kuat. Tujuan dari komunikasi ini adalah membangun dan memupuk persaudaraan. Jika tidak ada kabar dari satu anggota Usroh, maka anggota Usroh yang lain bergegas mencari informasi tentangnya.

Hendaknya para anggota Usroh mengembangkan keterbukaan di antara mereka, sebab keterbukaan adalah unsur terkuat dalam memupuk keakraban dan keakraban adalah pengikat persaudaraan.


BAB 9
ITSAR

Akhlak terpuji yang menghiasi dalam kehidupan seorang mukmin adalah sifat itsar. Yaitu mendahulukan kepentingan duniawi orang lain dibanding kepentingan duniawi dirinya sendiri. Akhlak ini telah menghiasai kehidupan para sahabat Nabi sollallohu ‘alayhi wa sallam sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala tentang sifat para sahabat Anshar:

﴿ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ 

“Mereka mengitsarkan (mengutamakan) muhajirin atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga dalam kondisi serba kekurangan.” (QS. Al-Hasr [59]: 9)

Sifat itsar adalah sifat orang-orang bertakwa. Sifat yang menunjukkan kekuatan iman. Sifat yang mampu memperkuat jalinan cinta kasih dan melembutkan hati.

Usroh juga berperan sebagai ajang pelatihan dan penanaman sifat itsar untuk para anggotanya. Mengutamakan dirinya menjadi pelayan daripada dilayani. Lebih suka memberi daripada diberi.

Adapun dalam amal-amal kebaikan, semua harus berlomba menjadi yang terbaik. Tamak dengan berbagai amal sholeh dan kegiatan-kegiatan dakwah. Selalu berada di barisan terdepan. Dan mengutamakan kemaslahatan jama’ah Usroh dibandingkan kemaslahatan dirinya.


BAB 10
SALING MENGALAH

Perbedaan pandangan, keinginan, dan selera dalam Usroh suatu kepastian yang tidak bisa dihindari. Hidup dalam satu Usroh dilatih bagaimana menghormati pendapat orang lain, meredam sifat egois, dan semakin ikhlas dalam beramal hanya mengharapkan ridho ilahi.

Berikanlah ide terbaik untuk kemaslahatan Usroh. Lakanakanlah tugas secara tuntas dan totalitas. Jika suatu pendapat ditolak dalam musyawarah bukan berarti itu merendahkan pengusungnya. Bisa jadi pendapat tersebut tertunda sampai pada waktunya yang tepat.

Apapun yang diputuskan bersama, maka itu adalah keputusan yang dipatuhi dan diterima dengan lapang dada. Jika pada akhirnya keputusan bersama tersebut salah dan pendapat kita lebih tepat, maka tetaplah menjaga lisan dan sikap dengan tidak menyalahkan anggota usroh yang lain.

Kemaslahatan bersama harus menjadi prioritas dalam membangun Usroh. Dibutuhkan sikap mengalah tatkala pendapat sesama anggota usroh tidak bisa disatukan. Bersabar, tidak memaksakan pendapat dan tetap berprasangka baik sama sekali tidak mengurangi kemuliaan dan kebaikan sebagai seorang mukmin.


BAB 11
MENJAGA TRI INDRA
(MATA, TELINGA, LISAN)

Bangunan Usrah layaknya interaksi antara satu keluarga. Aib, cacat, dan berbagai kekurangan pribadi dan keluarga bisa saja nampak tanpa sengaja. Jika mendapati itu semua terjadi pada anggota Usroh, maka sudah sepantasnya untuk tidak menyebarluaskannya kepada siapapun. Karenanya, jagalah mata, telinga, dan lisan Anda saat berkunjung atau di dalam pertemuan Usroh.

Menjaga mata adalah menjaga pandangan dengan tidak mencari lihat sesuatu yang tidak pantas baginya, seperti isi rumah seseorang baik keluarga pemilik rumah atau perabot rumah yang tertutupkan jika tersingkap.

Jika mendengar pembicaraan rahasia keluarga, pertengkaran, atau hal-hal privasi keluarga, maka ia seperti tidak mendengar apapun. Tidak menceritakannya kepada orang lain atau merubah pandangan baiknya tentang anggota Usroh tersebut.

Menjaga lisan berarti tidak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat antara anggota Usroh. Seperti ghibah, namimah dan sebagainya.

Rosululloh sollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)


BAB 12
BERPIKIR POSITIF DAN HUSNUZHON

Anggota Usroh senantiasa berprasangka baik kepada anggota Usroh yang lain. Selalu membukakan pintu maaf dan memberikan uzur jika ada anggota usroh melakukan kelalaian.

Selalu berfikir positif dan husnuzon dapat menjaga keikhlasan dalam beramal, mengantisipasi terjadinya perselisihan, dan jiwa pun hidup dengan tentram. Sikap ini akan melahirkan ucapan dan perbuatan yang baik serta bermanfaat.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar menjauhi sikap prasangka buruk terhadap saudaranya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا 

“Wahai orang-orang beriman! Jauhilah prasangka, sesungguhnya banyak dari prasangka itu dosa dan janganlah memata-matai untuk mencari kesalahan orang…”(QS. Al-Hujurat [49]: 12)

 

Umar bin al-Khottob rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Berprasangka baiklah selalu terhadap kalimat yang terucap dari saudaramu seiman, selama masih ada jalan untuk memahami kalimat tersebut dengan penafsiran yang baik.”  

Close